SDIT Bina Insani Kota Kediri Gelar Wisuda Al-Qur’an V dan Lahirkan Generasi Pecinta Kalamullah
Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema khidmat di Cendrawasih Ballroom Hotel Insumo Kediri pada Sabtu, 2 Mei 2026. Suasana haru dan penuh rasa syukur menyelimuti pelaksanaan Wisuda Al-Qur’an V SDIT Bina Insani Kota Kediri, yang dihadiri oleh wali murid, dewan guru, serta jajaran pengurus Yayasan Bina Insani Kediri.
Kegiatan tahunan yang menjadi salah satu program unggulan sekolah ini merupakan bentuk apresiasi atas perjuangan siswa dalam mempelajari, membaca, dan menghafalkan Al-Qur’an. Di hadapan para orang tua dan tamu undangan, para wisudawan menampilkan kemampuan terbaik mereka sebagai bukti kesungguhan dalam menempuh proses pembelajaran Al-Qur’an.
Pada wisuda tahun ini, SDIT Bina Insani Kota Kediri berhasil meluluskan 27 siswa munaqasyah tilawah, 41 siswa tahfiz juz 30, 29 siswa tahfiz juz 29, 5 siswa tahfiz juz 28, 5 siswa tahfiz juz 27, 4 siswa tahfiz juz 26, 1 siswa tahfiz juz 25, serta 2 siswa tahfiz juz 1. Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen sekolah dalam membangun generasi yang dekat dengan Al-Qur’an sejak usia dini.
Salah satu agenda yang paling dinantikan adalah Uji Publik Al-Qur’an yang menghadirkan Ustaz Wawan Fitriono, Trainer WAFA Indonesia, sebagai pemateri sekaligus penguji. Dalam sesi tersebut, para siswa menunjukkan kemampuan tilawah dan hafalan mereka secara langsung di hadapan para hadirin.
Dalam tausiyahnya, Ustaz Wawan menyampaikan bahwa keberhasilan anak dalam membangun kebiasaan baik sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya.
“Faktor penentu kebiasaan baik anak berasal dari rumah sebesar 60 persen, sekolah 20 persen, dan lingkungan 20 persen,” jelas beliau.
Menurutnya, pendidikan yang paling efektif bukanlah melalui nasihat semata, melainkan melalui keteladanan. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka lihat daripada apa yang mereka dengar.
“Jika anak melihat orang tuanya terbiasa membaca Al-Qur’an, maka anak akan mengikuti kebiasaan tersebut. Orang akan cenderung mengikuti apa yang ia lihat daripada apa yang ia dengar,” ungkapnya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menjadi pribadi yang baik terlebih dahulu sebelum berharap memiliki generasi yang baik.
“Para ulama mengatakan, jadilah sosok yang menarik terlebih dahulu, maka insya Allah engkau akan mendapatkan anak-anak yang menarik pula. Jika guru ingin murid-muridnya terlihat menarik, maka guru-gurunya harus menarik terlebih dahulu.”
Ustaz Wawan turut membagikan pengalaman pribadinya dalam menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, yaitu membiasakan membaca Al-Qur’an setelah salat Magrib serta melakukan murojaah dan menambah hafalan setelah salat Subuh. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten inilah yang kemudian membentuk budaya Qurani dalam keluarga.
Dalam kesempatan tersebut, beliau juga mengutip pesan para ulama tentang pentingnya membangun generasi berkualitas melalui empat fondasi utama, yaitu taufik dari Allah SWT, adab yang mulia, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang istiqamah. Nilai-nilai inilah yang menjadi bekal penting dalam membentuk pribadi muslim yang utuh. Konsep ini sejalan dengan penekanan para ulama bahwa ilmu harus melahirkan amal dan akhlak yang baik.
Menutup tausiyahnya, Ustaz Wawan berpesan agar orang tua dan pendidik terus mengarahkan anak-anak menjadi pribadi yang naafi’un lighairihi—manusia yang bermanfaat bagi orang lain.
“Apapun profesinya kelak, yang terpenting adalah bagaimana ia bisa memberikan manfaat bagi sesama.”
Wisuda Al-Qur’an V ini bukan sekadar seremoni penghargaan atas capaian hafalan dan tilawah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan Al-Qur’an lahir dari sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan.
Semoga para wisudawan senantiasa menjaga hafalan, memperbaiki bacaan, mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari, serta tumbuh menjadi generasi Qurani yang sukses di dunia dan akhirat. (ern)